Ingatan akan terus berubah dan memudar.
Lalu apa ingatanku lengkap?
Apa
ingatanku bisa dipercaya?
Apa yg kulihat hari itu. . .
Semalam tiba-tiba
terlintas sesuatu dibenakku.
Benar. Dy dan aku takkan pernah bisa
bersama.
Jika aku menggila lagi dan menyerah pada cinta, menentang dan
mengamuk,, semua orang akan berusaha memisahkan kami.
Kemudian aku akan
mempercayai perkataan mereka.
Sekali lagi, aku akan datang padanya.
Akan ku genggam tangannya.
Aku akan mendengarnya.
Akan ku katakan lagi
kepadanya perasaanku yg sesungguhnya.
Untuk kali ini, kita bisa
mengobati luka hati kita.
Apa kita melakukan yg benar?
Apa hanya ini
satu-satunya cara?
Apa kita memilih untuk mengabaikan cara lain?
Kita
bisa bicara sepanjang malam.
Mencoba mendapatkan pemecahan sepanjang
malam.
Jika kita tak dapat mencapai kesepakatan,, apa bisa kucengkeram
kerahnya dan bersikeras agar kami tetap bersama?
Karena aku akan
mempercayai mereka yg akan memisahkan kami.
Mendacium
Senin, 31 Juli 2017
Cerita untuk hari ini
Aku punya cerita untuk hari ini..
Bagaimana orang2 terlihat berbeda disetiap kesempatan..
Mereka sangat.. Entahlah harus kusebut apa. Sikap mereka saat aku merah muda dan saat aku abu2,, sangat berbeda.
Tapi itu manusiawi, sungguh. Aku tidak membenci orang2 ini karena itu. aku hanya..merasa..entahlah skeptis mungkin.
Sejak dulu, orang2 memang seperti itu kan..
Saat mentari bersinar cerah..mereka akan tersenyum padamu. menyapamu seperti sahabat, lalu berbincang denganmu seperti kerabat.
Tapi saat kau mendung hari, mereka hanya akan menatapmu selama 2detik lalu berlalu. Jika tidak, mereka hanya akan tersenyum kaku jika kau menyapa. Sebisa mungkin menghindari percakapan akrab denganmu.
Bukankah ini alami?
Semua orang melakukannya. Semua orang merasakannya. Itu manusiawi.
Aku pernah merasakannya. Segala sisi dari fakta itu pernah kualami.
Dan aku benar2 tdk membenci mereka yg seperti itu.
Aku hanya akan tersenyum dan bergumam "ssshhh~" pda diri sendiri. Tak ada gunanya marah atau membenci. Terlalu Membuang waktu dan tenaga untukku. Ditambah lagi, otakku pandai menyingkirkan hal2 tdk penting dari kepalaku. Aku juga tidak memiliki --walau hanya sedikit saja-- ketertarikan kepada orang2 yg hanya akan memiliki sikap tertentu disaat-saat tertentu saja. Aku hanya akan memandang kepada orang yg memandangku walau saat mentari tak secerah biasanya. Ku akui--aku bukan mAnusiA jika tak merasa kecewa--aku juga merasa kecewa beberapa kali karena hal ini. Tapi hanya disaat itu saja. Itu juga manusiawi.
Bagaimana orang2 terlihat berbeda disetiap kesempatan..
Mereka sangat.. Entahlah harus kusebut apa. Sikap mereka saat aku merah muda dan saat aku abu2,, sangat berbeda.
Tapi itu manusiawi, sungguh. Aku tidak membenci orang2 ini karena itu. aku hanya..merasa..entahlah skeptis mungkin.
Sejak dulu, orang2 memang seperti itu kan..
Saat mentari bersinar cerah..mereka akan tersenyum padamu. menyapamu seperti sahabat, lalu berbincang denganmu seperti kerabat.
Tapi saat kau mendung hari, mereka hanya akan menatapmu selama 2detik lalu berlalu. Jika tidak, mereka hanya akan tersenyum kaku jika kau menyapa. Sebisa mungkin menghindari percakapan akrab denganmu.
Bukankah ini alami?
Semua orang melakukannya. Semua orang merasakannya. Itu manusiawi.
Aku pernah merasakannya. Segala sisi dari fakta itu pernah kualami.
Dan aku benar2 tdk membenci mereka yg seperti itu.
Aku hanya akan tersenyum dan bergumam "ssshhh~" pda diri sendiri. Tak ada gunanya marah atau membenci. Terlalu Membuang waktu dan tenaga untukku. Ditambah lagi, otakku pandai menyingkirkan hal2 tdk penting dari kepalaku. Aku juga tidak memiliki --walau hanya sedikit saja-- ketertarikan kepada orang2 yg hanya akan memiliki sikap tertentu disaat-saat tertentu saja. Aku hanya akan memandang kepada orang yg memandangku walau saat mentari tak secerah biasanya. Ku akui--aku bukan mAnusiA jika tak merasa kecewa--aku juga merasa kecewa beberapa kali karena hal ini. Tapi hanya disaat itu saja. Itu juga manusiawi.
Syair Luka untuk Cinta
Dalam bayang-bayang kelabu, sinar senja mengintip dari selimut tebalnya
selama ini.
Dalam keputus asaan bisu, aku beringsut mendekati sumber cahaya.
Ada senyuman hangat di sana menyambutku.
Detik itu aku tahu, segala keraguan harus aku tanggalkan dari diriku sepenuhnya.
"Kali ini aku tak boleh ragu, kali ini aku tak boleh setengah hati." aku berbisik kepada diri sendiri.
Bersama perkataan itu, aku melihat mata cokelat lembut itu berkedip meminta senyumku.
Maka tersenyumlah aku padanya.
Ketika menit-menit berdetak, mata itu membukakan perlahan masa depan yang ia tawarkan untukku.
Jadi aku bergegas, walau dengan tangan bergetar dan napas tersengal-sengal, memunguti setiap serpihan--setiap inci--bagian hatiku yang hancur selama ini dan menyatukan semuanya menjadi satu bagian yang utuh lagi untuk aku tawarkan dengan bangga padanya. Semua rumput yang pernah aku injak tahu, bagaimana setiap retakan di hatiku tercipta.
Dan setiap awan gelap di atas kepalaku adalah bukti kesungguhanku saat menggunakan hatiku.
Itulah mengapa aku bertanya tentang perasaannya setiap hari.
Terkadang ia akan menyipitkan matanya dan bertanya.
Tapi jika aku membuka kenyataan di wajahnya, akankah dia memahami?
Aku menganggap sangat serius perasaan jatuh cinta.
Jadi begitu menetapkan hatiku, aku akan mencurahkan seluruh hatiku dalam menjalaninya. Kebanyakan orang tidak paham, diam bisa berarti sangat sangat cinta bila kau benar-benar membuka pendengaranmu.
Tak perlu lambang cinta atau visualisasi apapun tentang merah mudanya hati, Jika benar-benar jatuh cinta, bahkan degupan jantungmu menyuarakannya dengan lantang.
Aku mendongak menatap wajah itu sekali lagi.
Mata lembutnya masih menatapku, senyum teduhnya juga masih terangkat untukku, tapi mengapa aku merasa ada sesuatu yang lain membayangi wajahnya?
Apa itu?
Apakah jika aku bertanya, dia akan menjawabku?
Aku sedih memikirkan, sinar senja yang menerpa wajahku tak kunjung menepis awan-awan kelabu yang menutupi sekelilingnya.
Dalam keputus asaan bisu, aku beringsut mendekati sumber cahaya.
Ada senyuman hangat di sana menyambutku.
Detik itu aku tahu, segala keraguan harus aku tanggalkan dari diriku sepenuhnya.
"Kali ini aku tak boleh ragu, kali ini aku tak boleh setengah hati." aku berbisik kepada diri sendiri.
Bersama perkataan itu, aku melihat mata cokelat lembut itu berkedip meminta senyumku.
Maka tersenyumlah aku padanya.
Ketika menit-menit berdetak, mata itu membukakan perlahan masa depan yang ia tawarkan untukku.
Jadi aku bergegas, walau dengan tangan bergetar dan napas tersengal-sengal, memunguti setiap serpihan--setiap inci--bagian hatiku yang hancur selama ini dan menyatukan semuanya menjadi satu bagian yang utuh lagi untuk aku tawarkan dengan bangga padanya. Semua rumput yang pernah aku injak tahu, bagaimana setiap retakan di hatiku tercipta.
Dan setiap awan gelap di atas kepalaku adalah bukti kesungguhanku saat menggunakan hatiku.
Itulah mengapa aku bertanya tentang perasaannya setiap hari.
Terkadang ia akan menyipitkan matanya dan bertanya.
Tapi jika aku membuka kenyataan di wajahnya, akankah dia memahami?
Aku menganggap sangat serius perasaan jatuh cinta.
Jadi begitu menetapkan hatiku, aku akan mencurahkan seluruh hatiku dalam menjalaninya. Kebanyakan orang tidak paham, diam bisa berarti sangat sangat cinta bila kau benar-benar membuka pendengaranmu.
Tak perlu lambang cinta atau visualisasi apapun tentang merah mudanya hati, Jika benar-benar jatuh cinta, bahkan degupan jantungmu menyuarakannya dengan lantang.
Aku mendongak menatap wajah itu sekali lagi.
Mata lembutnya masih menatapku, senyum teduhnya juga masih terangkat untukku, tapi mengapa aku merasa ada sesuatu yang lain membayangi wajahnya?
Apa itu?
Apakah jika aku bertanya, dia akan menjawabku?
Aku sedih memikirkan, sinar senja yang menerpa wajahku tak kunjung menepis awan-awan kelabu yang menutupi sekelilingnya.
Langganan:
Postingan (Atom)